HUKUM DAN TATA CARA MEMANDIKAN JENAZAH

Bagaimana hukumnya memandikan orang kafir? Orang kafir tidak wajib dimandikan, tetapi dibolehkan menurut sebagian ulama. Menurut Imam Maliki dan Hambali, tidak perlu bagi seorang muslim memadikan, mengkafani dan memakamkan keluarganya yang kafir, kecuali kalau dikhawatirkan hilang atau rusak maka wajib dimakamkan. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Nasa’i dan Baihaqi, bahwa Ali ra. mendatangi Rosulullah ketika ayahnya meninggal, maka Rosul SAW bersabda: ” Pergilah kuburkan bapakmu dan jangan memberitakan sesuatupun sebelum engkau menemuiku”. Siapakah yang boleh memandikan jenazah? Disunnahkan orang yang memandikan jenazah orang yang terpercaya, sholeh, jujur serta mengerti tata cara memandikan jenazah supaya menceritakan kebaikan mayat dan menutupi kejelekannya. Berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwa Rosulullah SAW bersabda: ”Hendaknya yang akan memandikan jenazah-jenazahmu itu orang2 yang dapat dipercaya ”. Demikian juga dari Abi Rafi’ Aslam pelayan Rosulullah SAW, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: ”Barangsiapa yang memandikan mayat, kemudian ia merahasiakan apa yang ada padanya (mayit), maka Allah akan mengampuninya sebanyak 40 kali” . (HR. Al-Hakim dan berkata: ”Hadist shohih menurut syarat Muslim”). Bolehkah kita melihat/ menghadiri jenazah yang sedang dimandikan? Tidak boleh menghadiri tempat memandikan jenazah kecuali orang yang memandikan atau membantu memandikan jenazah. Bolehkah suami memandikan istri atau sebaliknya? Jumhur ulama berpendapat bahwa seorang istri boleh memandikan suaminya, berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud bahwa Aisyah berkata: ”Jika saya menghadapi sesuatu urusan, tidaklah akan saya abaikan! Tidaklah yang memandikan Nabi SAW, kecuali para istrinya”. Sedangkan masalah suami memandikan istrinya , ada perbedaan pendapat, tapi jumhur ulama membolehkan berdasarkan riwayat Daruquthni dan Baihaqi bahwa Ali ra. memandikan Fathimah ra. Juga karena sabda Rosulullah kepada Aisyah ra. : ”Seandainya kau meninggal sebelumku, tentulah akan saya mandikan dan saya kafani” . (HR. Ibnu Majah). Adapun Imam Hanafi berpendapat bahwa tidak boleh seorang suami memandikan istrinya, kalau tidak ada orang kecuali suaminya maka cukup ditayamumkan. Apa yang wajib dilakukan dalam memandikan jenazah? Yang wajib dalam memandikan mayat adalah menyiramkan air cukup satu kali ke seluruh badan meskipun orang tersebut dalam keadaan junub atau haid. Sedangkan yang selebihnya sunnah, dan di sunnahkan dalam hitungan ganjil (3x, 5x, 7x, dst). . Bagaimana tata cara memandikan mayat? Yang memandikan wajib berniat, berdasarkan hadist dari Ibnu Majah, bahwa Rosulullah bersabda: ”Hendaknya yang memandikan mayat orang2 yang terpercaya dan wajib niat memandikan sifulan karena niat merupakan rukun yang dituntut oleh Allah SWT bagi yang memandikan” . Disunnatkan orang yang memandikan jenazah orang yang sholeh dan terpercaya terutama dari kalangan ahli warisnya dan tidak boleh mempunyai hadas besar. Disunnatkan agar mayat diletakkan di tempat yang tinggi sehingga sejajar dengan yang memandikan (yang memandikan dalam posisi berdiri). Selain itu mayat harus ditutup dengan pakaiannya atau di tanggalkan pakaianya dan ditaruh diatasnya dengan sesuatu yang dapat menutupi mayat terutama auratnya, kecuali mayatnya belum baligh. Mayat agak didudukan sedikit dan perut dipijat pelan agar kotoran keluar dan kemudian mayat diistinjakan. Pada waktu membersihkan aurat hendaknya tangan memakai sarung tangan atau dilapisi kain karena menyentuh aurat hukumnya haram. Diwudhukan seperti wudhuk shalat berdasarkan sabda Rosulullah SAW: ”Mulailah dengan bagian yang kanan dan anggota-anggota wudhuk” Setelah itu dimandikan tiga kali atau lebih (ganjil) dengan air dan sabun atau dengan air bidara dimulai pada bagian kanan (dimulai sebelah kanan dari atas kepala, kemudian tangan kanan, tangan kiri, dst sampai telapak kaki kanan, kemudian telapak kaki kiri). Berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh jama’ah dari Ummu ’Atiyyah, katanya : ”Rosulullah masuk menemui kami ketika meninggalnya putri beliau, maka sabdanya: ”Mandikanlah ia tiga atau lima kali atau jika kalian anggap perlu lebih banyak lagi, dengan air dan bidara dan terakhir campurlah dengan kapur barus atau sedikit dari kapur barus. Jika telah selesai beritahukanlah kepada saya!” Setelah selesai, kami sampaikan kepada Nabi SAW, maka diserahkan kepada kami kain sarungnya, serta sabdanya: ”lilitkanlah ke badannya”. Jika mayatnya wanita, maka disunnatkan untuk menguraikan rambutnya, lalu dicuci dan dijalin kembali serta dikebelakangkan, berdasarkan hadist yang diterima dari Ummu ’Athiyyah: ”Bahwa wanita- wanita itu menjalin rambut putri Nabi menjadi tiga untai. ”saya tanyakan padanya: ”Apakah menguraikan rambutnya, lalu menjalinnya tiga untai?” ”Benar” ujarnya” . Dan menurut riwayat Muslim berbunyi: ”Maka kami jalinlah rambutnya menjadi tiga untai, yaitu dua di samping dan satu ditengah”. Jika telah selesai dimandikan maka tubuhnya dikeringkan dengan kain atau handuk agar kain kafan tidak basah. Diberi wewangian, berdasarkan sabda Rosulullah SAW: ”Jika kamu mengasapi mayat dengan wangi-wangian, maka hendaknya dengan jumlah ganjil” (HR Baihaqi, Hakim dan Ibnu Hibban). Selain itu Ali ra. menyimpan sisa minyak wangi Rosulullah SAW dan mewasiatkan agar ia nanti dipulas dengan minyak itu. Menurut jumhur ulama, dimakruhkan memotong kuku mayat dan tidak boleh mengambil/mencukur rambutnya. Para ulama sepakat, jika mayat sudah dimandikan dan masih keluar kotoran, maka cukup dibersihkan bagian tubuh yang terkena najis saja. Tetapi sebagian ulama berpendapat wajib mewudhukkan kembali, dan sebagian lagi mewajibkan mengulangi mandi kembali. Apakah hikmah menggunakan kapur barus? · Supaya wangi dan juga wangi ketika dihadiri malaikat. · Dapat menguatkan mayat sehingga tidak mudah rusak. · Dapat mengusir binatang- binatang yang ada dikuburan. Bolehkah menggunakan bahan lain selain kapur barus? Dibolehkan menggunakan bahan lain dengan fungsi yang sama jika tidak ada kapur barus. Artikel yang berhubungan: ORANG YANG BERHAK MEMANDIKAN JENAZAH 1.Muslim dan berakal. 2. Sesuai wasiat si mayit a. Jika si mayit telah mewasiatkan kepada seseorang tertentu untuk memandikan jenazahnya maka orang itulah yang berhak memandikan b. Jika si mayit tidak mewasiatkan kepada siapapun maka yang berhak adalah ayahnya atau kakek- kakeknya, kemudian anak laki-lakinya atau cucu- cucunya yang laki-laki. c. Jika tidak ada yang mampu, keluarga mayit boleh menunjuk orang yang amanah lagi terpercaya untuk memandikannya. Atau orang yang paling mengusai fiqh tentang perawatan jenazah syar’i. d. Demikian pula halnya jika si mayit adalah seorang wanita. (yaitu sesuai dengan wasiatnya jika ada, jika tidak ada maka ibunya atau nenek- neneknya, kemudian anak perempuannya atau cucu- cucunya yang perempuan. Jika tidak ada maka keluarganya boleh menunjuk seorang wanita yang amanah lagi terpercaya untuk memandikannya) 3. Sama jenis kelaminnya, artinya bila yang meninggal wanita maka yang memandikan wanita juga, demikian sebaliknya. Kecuali suami istri, untuk anak-anak yang masih dibawah 7 tahun, atau keadaan darurat lainnya yang membolehkan untuk memandikan jenazah beda jenis kelamin dengan yang memandikan. 4. Dianjurkan agar yang memandikan jenazah tersebut memilih dua orang dari keluarga si mayit. Seorang diantaranya yang terlihat tanda-tanda ketaatan pada wajahnya agar dapat memberikan pengarahan ketika memandikan jenazah tersebut. Seorang lagi yang tampak tanda-tanda maksiat dan dosa pada dirinya sehingga ia dapat menyaksikan jenazah dimandikan dan dibolakbalikkan, mudah- mudahan pemandangan seperti itu menjadi pelajaran baginya dan membuatnya terhenyak alu sadar dan bertaubat kepada Allah SWT. “Bukankah kematian sudah cukup menjadi pelajara bagi kita?” 5. Tidak diperbolehkan masuk ke tempat memandikan jenazah tersebut lebih dari tiga orang. Karena hal itu tidak disukai.

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

10 tanggapan untuk "HUKUM DAN TATA CARA MEMANDIKAN JENAZAH"

Van Vaart™ pada 07:01 AM, 11-Oct-11

Ikut nyimak ja sob

Setalar pada 09:08 AM, 11-Oct-11

ikutan nyimak sob, thx

Aji pada 12:45 PM, 11-Oct-11

PATROLI.... BOOOSSSS.... NYIMAK DULU

Salga 212 | Pecinta Wiro Sableng pada 12:53 PM, 11-Oct-11

Tambah ilmu lagi smile

enchus pada 11:19 AM, 19-Oct-11

hadir sob. . . .
Nyamak ya . . . .

mrbelia pada 06:33 PM, 20-Oct-11

artikel menarik ni sob ... thnk dah mampir http://mrbelia.pun.bz

xesink pada 07:20 AM, 21-Oct-11

nyimak gan,

Habib Anashir pada 05:08 PM, 23-Oct-11

hmm..
Mundazoroh yang sangat bermanfaat kang,,
Salam Ukhuwah ya...

http://annashir-alalim.heck.in/

Beenzrafael pada 10:55 AM, 08-Nov-11

nice posting. Knjngn prdn sob. mrgreen

rizal pada 03:14 PM, 30-Dec-12

mksh tambah pengetahuan

Langganan komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

Silakan masuk untuk berkomentar